Jumat, 05 Agustus 2016

WAR WORLD IN ASTRAL (PART 1)

WAR WORLD IN ASTRAL (PART 1)

Pernahkah kalian membayangkan kalau manusia dapat memiliki kekuatan supranatural tanpa batas? kekuatan yang membuat manusia bisa menjadi bentuk apapun dah memiliki kekuatan apapun sesuain dengan yang diinginkannya? ya, kekuatan itu ada. Tetapi bukan di dunia nyata yang penuh kebohongan ini, namun di alam lain yang bernama alam Astral, kekuatan ini sendiri bernama Astral Projection. Aku sering membaca banyak artikel tentang Astral Projection dari situs dalam maupun luar negeri, mereka sudah sering melakukan hal ini katanya, bahkan membuat kelompok di alam Astral sana. Menurutku ini sedikit bodoh dan mengada-ngada, mungkinkah hal konyol seperti ini benar-benar ada?
Aku termasuk orang yang sangat penasaran dengan hal-hal menarik seperti ini, aku adalah seorang anak berumur 16 tahun yang, pendiam dan sangat tertutup, kau tau... Introvert. Namaku Sebastian, rambut lurus berwarna hitam, kurus tinggi, dan tidak pernah mempunyai pacar, masa bodoh dengan mereka. Aku tidak pernah bergaul, aku akui itu, namun aku mempunyai banyak teman, yah seperti, gadget dan beberapa buku bacaan. Oke, kembali ke ke Astral Projection, aku sudah jutaan kali mencobanya namun tidak ada hasil sedikitpun, menurut artikel yang kubaca bila ada sedikit saja rasa takut di dalam diri kita, maka tidak akan pernah berhasil untuk melakukan Astral Projection ini. Oh bung, ayo lah, siapa yang tidak akan takut karna ketika dialam Astral, melihat makhluk-makhluk seram dan setan bukanlah hal yang mustahil, bahkan itu pasti terjadi, sangat pasti. Aku sudah hampir tiap malam melakukan Lucid Dreaming, kau tau, mimpi yang bisa kita kendalikan, rasanya luar biasa karna aku bisa melakukan apa saja di alam mimpi, tapi rasanya bosan juga karna itu hanya mimpi berbeda dengan Astral Projection yang merupakan kenyataan. Malam ini untuk kesekian kalinya aku mencoba lagi untuk melakukan Astral Projection, aku sudah mempersiapkan semuanya, semua yang dibutuhkan untuk berhasil Astral Projection, termasuk menghilangkan satu-satunya penghalang terbesar yaitu rasa takut. Aku sudah mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk, lagipula siapa yang mau masuk kekamarku jam larut begini, aku sengaja tidak mematikan lampu agar suasana tidak terlalu seram. Pertama aku harus rileks agar bisa masuk ke fase Sleep paralyze, tubuh kita terlelap namun pikiran kita sadar, karna itu kita tidak dapat menggerakan anggota tubuh, fase ini katanya dibutuhkan agar bisa masuk ke fase selanjutnya. Aku memejamkan mata, tidak banyak bergerak, fokus, dan aku sudah masuk ke fase Sleep paralyze atau ketindihan. Kenapa aku bisa masuk ke fase ini dengan mudah? seperti yang sudah kubilang, aku sering melakukan Lucid Dream. Aku sudah ada di fase Sleep paralyze, sekarang saatnya mengeluarkan Vragel, tubuh halus yang kan menjadi tubuh kedua kita di alam Astral, fase ini adalah yang paling sulit, aku sampai berkeringat dingin melakukannya. Dibutuhkan konsentrasi dan fokus yang sangat besar disini, karna aku akan mengeluarkan Vragel yang selama ini tidak pernah terlepas dari tubuhku. Aku sudah berusaha semampuku untuk mengeluarkan Vragel ini, tapi tidak mau keluar juga bagaimanapun kuatnya usahaku, padahal menurut artikel yang kubaca caranya adalah dengan membayangkan benda-benda ringan melayang ke atas, aku sudah mencobanya tapi, ya tuhan, ini tidak segampang yang orang bayangkan. Cukup. Aku menyerah. Aku bangkit dari pembaringan dan duduk di ranjang, keringat dingin membanjiri tubuhku, aku melihat sekeliling. Aneh.. semuanya tampak lebih gelap, seingatku aku tadi masih menyalakan lampu, bahkan semua benda terlihat berkelip, seperti memiliki cahaya sendiri, pandanganku juga lebih gelap namun 5 kali lebih jelas daripada sebelumnya, semuanya tampak sempurna, seperti memiliki aura sendiri. Apakah aku Lucid dream? tidak, ini bukan Lucid dream, karna aku melihat kalau aku sedang lelap tertidur, dengan tangan disilangkan ke dada, aku melihat aku sendiri sedang terlelap?
kukira ini mengerikan, namun sosok raksasa yang memperhatikanku dari balik kegelapan diluar jendela ternyata lebih mengerikan....

Rabu, 03 Agustus 2016

Monkey Dream II, Cerita Lain Dari Lucid Dream Versi Gelap

Monkey Dream II, Cerita lain dari Lucid Dream versi Gelap

Catatan dari web aslinya: Well, komentar dari para pembaca Monkey Dream mulai bermunculan. Komentar-komentar ini mengaku bahwa kesialan akan menghinggapi siapapun yang membaca cerita ini. Aku membacanya cepat-cepat. Mungkin ini hanya kebetulan, namun 4 hari setelah aku membaca cerita ini, aku mengalami mimpi buruk yang dapat kusebut sekuel dari “Monkey Dream”. Ini memang tak bisa dibandingkan dengan cerita pertama, namun aku akan mengisahkannya di sini.

Di mimpi ini, aku sedang berada di taman bermain di Nagoya. Aku sedang naik sebuah roller coaster kecil yang mungkin sudah tidak ada lagi di sana. Itu adalah sebuah wahana untuk anak kecil yang akan mengelilingi taman bermain dengan kecepatan rendah. Aku masih sangat kecil ketika terakhir menaikinya, namun seingatku wahana itu berjalan selama 3-5 menit. Tepat sebelum jalan keluar terdapat sebuah terowongan kecil dimana di ujungnya ayah akan berdiri di sana dan mengambil fotoku. Di sampingnya berdiri ibuku, melambaikan tangannya ke arahku dan tersenyum ketika ia memanggil namaku. Aku sangat bahagia saat itu, jadi saat itu merupakan kenangan paling indah dalam hidupku.
Ini terjadi tepat sebelum ayah mulai melecehkanku.
Kereta ini memiliki dua tempat duduk per baris. Di mimpiku, aku berada di barisan paling depan. Kakak perempuanku, yang masih berupa anak kecil dalam mimpiku, duduk di sebelahku. Ketika kami masih kecil, aku sering mendongak ke atas untuk melihat wajah kakakku dan bercanda dengannya. Namun dalam mimpiku, aku sudah berumur 20-an tahun, sehingga dengan perbedaan umur kami, kami berdua lebih tampak seperti ayah dan anak ketimbang kakak adik. Namun merasakan nostalgia dan ingin menikmati mimpi tersebut.
Kereta itu melintasi rel dengan perlahan dan akhirnya kami tiba di terowongan tersebut.
Ketika terowongan itu berakhir, aku bisa melihat ayahku ketika ia masih baik, pikirku.
Namun saat kereta meninggalkan terowongan, aku tak lagi berada di taman bermain. Roller coaster dimana aku duduk telah berubah menjadi kereta api dan kakakku telah menghilang. Aku berada di sebuah gerbong dimana gerbong di depanku merupakan gerbong untuk penumpang yang ingin merokok. Ketika pintu antargerbong dibuka, asap masuk ke dalam gerbongku.
Aku sudah menggunakan shinkansen beberapa kali, jadi aku berpikir bahwa aku sedang memimpikan kereta tersebut.
Aku melihat keluar jendela dan melihat pemandangan yang familiar. Perbedaan satu-satunya antara kenyataan dan mimpiku adalah gerbong ini sangatlah sunyi. Selain itu, aku melihat hanya ada dua orang duduk di tiap baris, meskipun tiap baris bisa menampung hingga dua hingga tiga orang. Semua oran juga terlihat sangat kacau dan berantakan.
Aneh, pikirku. Aku menarik sebuah MP3 player keluar dari tasku dan mulai mendengarkan lagu yang kusuka.
Tiba-tiba kereta memelankan lajunya.
Aneh, ini masih terlalu cepat untuk sampai ke Kyoto? Kita harusnya berhenti dulu di Gifu-Hashima kan? Aku melepaskan kedua earphone-ku untuk melihat di stasiun mana kami berhenti. Namun sepertinya aku melewatkan pengumuman itu karena terlalu asyik mendengarkan musik. Kami tiba di stasiun yang tak aku kenal dan tiba-tiba suara jeritan menggema di dalam gerbong. Pasti ada sesuatu terjadi di bagian belakang gerbong. Namun walaupun suara jeritan itu terdengar jelas, tak seorangpun nampak bereaksi. Apa yang terjadi? Aku mencoba untuk melihat ke belakangku, namun aku tak bisa melihat jauh ke belakangku karena rabun jauhku.
Tak ada yang turun di stasiun itu dan kereta mulai bergerak dengan perlahan kembali.
Baru lima menit kemudian, kereta mulai melambat kembali. Kali ini aku bisa mendengar nama stasiun kereta ini.
“Digantung.” Suara pengumuman itu berkata dan kereta ini kembali berhenti di stasiun yang tak aku kenal. Kemudian terdengar kembali suara jeritan dari dalam gerbong. Aku menoleh dan melihat seorang wanita tua tergantung di belakang gerbong. Ia mencoba melepaskan diri dan mencakari tali yang melingkari tenggorokannya. Ia menendang-nendangkan kakinya, “BANG! BANG! BANG!” di kuris-kursi dan dinding kereta.
Akupun sadar mimpi apa ini. Monkey dream. Aku tahu aku harus bangun secepat mungkin atau mungkin aku takkan bisa bangun selamanya. Namun aku bukan orang yang mampu membangunkan diriku sendiri dari mimpi.
Jadi, aku melihat dan menunggu.
Aku penasaran berapa orang yang sudah terbunuh dan kapan giliranku akan tiba. Seperempat dari kursi-kursi di gerbong belakang telah kosong. Apakah orang-orang tersebut telah dipotong dan disendok, seperti di Monkey Dream yang sesungguhnya?
Tempat dudukku berada di baris ketujuh. Giliranku semakin dekat. Aku harus bangun, namun aku tak bisa. Penjaja makanan lewat, tersenyum sambil mendorong kereta berisi berbagai macam organ dalam.
“Aku tak mampu lagi berada di sini,” aku menampar diriku sendiri, “Cepat bangun! Bangun!”
Aku kembali menoleh dan melihat beberapa orang telah menghilang.
“Mereka lenyap karena mereka terbangun.” Seorang pria berpakaian jas di belakangku berkata, “Jika kamu tak segera bangun, sebentar lagi akan menjadi giliranmu.”
Delapan baris di belakangku, aku melihat darah mengalir.
Aku baik-baik saja. Masih ada enam baris sebelum tiba giliranku. Aku hanya harus cepat-cepat bangun.
Kami tiba di stasiun berikutnya.
“Ditusuk.”
Dan hal mengerikan pun terjadi. Aku mengira aku berada di baris ketujuh, namun pada stasiun itu, lima orang ditusuk menjadi satu seperti sate. Pria di belakangku otomatis akan menjadi yang berikutnya. Namun ia mulai mengigau, “Aku tak ingin bangun. Masyarakat sudah berubah. Istriku ...”
Dengan gemetaran, aku mendengarkan dia mengeluhkan tentang hidupnya.
Dan kemudian aku terbangun.
Aku basah oleh keringat dingin. Mimpi ini terasa seperti mimpi yang sangat panjang. Namun saat melihat jam, aku mungkin hanya tertidur selama 20 menit.
Cerita “Monkey Dream” mungkin telah meninggalkan kesan mendalam bagiku sehingga aku mengalami mimpi semacam itu. Mungkin cerita itu sendiri merupakan “tiket” untuk masuk ke dalam kereta itu.
Aku berharap aku takkan pernah memimpikannya lagi. Aku takut apa yang akan terjadi jika aku sampai di stasiun berikutnya.

Selasa, 02 Agustus 2016

The Holder Of Catastrophe

The Holder of Catastrophe

Di setiap kota, di setiap negara, pergilah ke sebuah taman hiburan terlantar yang bisa kamu masuki. Carilah roller coaster terbesar di taman itu, bagaimanapun keadaannya. Duduklah di sebelah kiri jauh dari kereta pertama, kemudian tutup mata kalian dan berbisik: “Aku harap bisa bertemu dengan 'The Holder of Catastrope'.” Kemudian kamu akan merasakan roller coaster mulai bergerak, namun kamu tidak boleh membuka mata, jika melakukannya maka kamu akan mendapati diri bergerak dalam kehampaan tak berujung dimana tidak ada jalan keluar. Coaster perlahan bergerak naik, terdengar suara berderak lambat. Kamu kemudian akan mendengar suara-suara lain seperti suara bisikan minta tolong, namun, kamu tidak boleh menanggapi suara-suara tersebut. Jika tidak, mereka akan membawamu masuk ke dalam dimensi dimana hanya kehampaanlah yang ada. Suara-suara itu kemudian akan berhenti bicara pada kamu dan kereta akan berhenti. Dengan mata yang masih terpejam, kamu harus mencengkeram palang pegangan coaster seerat mungkin, jika tidak, kamu akan tertinggal selamanya. Setelah melakukannya, kamu kemudian akan merasa seperti terjun dengan kecepatan tinggi, kecepatan yang mustahil terjadi dalam kehidupan biasa. Udara di sekitarmu akan berubah perlahan menjadi dingin, semakin berlanjut sehingga kamu merasa beku. Begitu merasakan coster di sekitar menghilang, kamu harus tetap mencengkeram palang, sebab hanya itulah yang menghubungkan kamu dengan realita sesungguhnya. Kamu akan berhenti secara tiba tiba. Lepaskan pegangan dari palang, dan tetap duduk dengan mata masih terpejam sampai kemudian kamu mendengar suara riuh rendah karnaval dari kejauhan, baru setelah itu kamu boleh membuka mata yang dimana kemudian mendadak ada sebuah tenda sirkus bergaris-garis besar menyambut di depan mata -hanya berselang beberapa yard.- dikelilingi oleh padang rumput dan orang-orang yang bergembira, tua dan muda. Kamu harus berjalan menuju tenda, menatap lurus pada jalan masuk kecil. Saat berjalan, pemandangan di sekitarmu akan mulai berubah. Perlahan, padang rumput mati, suara musik karnaval akan menjadi sumbang dan melengking sampai kemudian berubah sama sekali menjadi terdengar ganjil dan mengerikan. Orang-orang akan membusuk di tempat mereka berdiri. Mereka berteriak penuh derita, dan memohon pertolonganmu, namun kamu tidak boleh mengalihkan pandangan langsung pada mereka, atau kamu akan bernasib sama dengan ilusi tersebut. Kamu harus tetap berjalan hingga sampai pada pintu masuk nan gelap. Melangkahlah ke depan dan biarkan kegelapan menelanmu, dan jangan pernah sekalipun kamu menoleh ke belakang. Jika melakukannya, maka kamu tidak akan menemukan jalan keluar. Tetap berjalan lurus dalam kehampaan sampai kemudian sebuah cahaya samar dari terlihat dari kejauhan Kemudian akan terdengar suara isak tangis seseorang. Ikuti suara tersebut, suara isakan akan semakin nyaring dan kemudian kamu akan menyadari bahwa sumber cahaya berasal dari sebuah pintu dalam kegelapan. Saat berjalan melewati pintu, sebuah sel bersemen akan terlihat. Di pojok kiri jauh, kamu akan melihat seseorang yang menangis dengan mengenakan baju badut sirkus, wajahnya ditutupi oleh sebuah diary kecil. Kamu harus mendekatinya secara perlahan, seperti berusaha untuk tidak menambah kesedihannya, sampai kemudian dirinya tepat dihadapanmu. Duduklah di sebelahnya dan tanyakan: “Apa yang telah hilang dari kita?” Badut itu kemudian akan membacakan sebuah cerita dari diary tersebut disela isak tangisnya. Tulisan yang menjelaskan dan menggambarkan secara detail binasanya orang-orang tak berdosa, dan sumber yang telah begitu kejam dan tanpa belas kasih yang telah menyebabkan kehnacuran itu. Saat dia membaca, ilusi dan gambaran akan muncul di sekitarmu, dan di dalam ilusi tersebut kamu akan melihat semua bentuk kematian masing-masing orang yang ada dalam cerita, banyak diantara mereka yang dibantai, dicincang, banyak diantara mereka yang binasa karena wabah penyakit. Bagaimanapun juga, kamu harus memfokuskan pandangan pada sang badut, jika kamu sampai mengalihkan pandangan darinya, kamu akan terjebak dalam ilusi tersebut dan menjadi bagian dari kisah tersebut. Setelah dia selesai, dia akan berhenti menangis. Dia akan menurunkan buku di depan wajahnya, menunjukan wajahnya yang dalam keadaan membusuk sama seperti yang ada di dalam ilusi-ilusi yang baru saja kamu saksikan. Dia akan menyerahkan buku itu. Dia memperingatkan bahwa kamu tidak boleh membaca diary itu sendiri, jika tidak, kegilaan akan menjemput tanpa terelakan. Kemudian dia akan berbisik: “Saat taruhannya tinggi, menjadi badutt adalah pilihan terbaik." Sesaat setelah dia membisikan kata-kata tersebut, sisa tubuhnya akan membusuk, begitu juga dengan seluruh ruangan yang ada di sekitarnya. Kamu harus menutup mata sekali lagi, genggam buku tersebut seerat mungkin, dan hitung tepat dua belas detik sebelum kemudian membuka mata. Saat melakukannya, kamu akan mendapati diri di bangku roller coaster yang sama saat kamu mulai sebelumnya.
Diary tersebut merupakan obyek ke 12 dari 538. Peristiwa itu tidak boleh terulang kembali.